Trending: Wujud Penghargaan Bangsa: BTN dan PHSI Serahkan 30 Rumah Gratis untuk Mantan Atlet dan Pejuang
Selasa, 1 September 2026
EKONOMI & BISNIS

Harga Telur di Bawah Rp30 Ribu Mengancam, Mendag Budi Santoso Desak Penyesuaian Demi Peternak

Mendag Budi Santoso Khawatir, Harga Telur Rp26 Ribu Ancam Keberlangsungan Peternak Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso secara tegas mengingatkan bahwa harga telur ayam ras di tingkat peternak yang saat ini menyentuh Rp26 ribu per kilogram (kg) berada pada level yang tidak ideal dan mengancam keberlangsungan usaha peternakan lokal. Mendag Budi Santoso mendesak agar harga telur […]

Mendag Budi Santoso Khawatir, Harga Telur Rp26 Ribu Ancam Keberlangsungan Peternak

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso secara tegas mengingatkan bahwa harga telur ayam ras di tingkat peternak yang saat ini menyentuh Rp26 ribu per kilogram (kg) berada pada level yang tidak ideal dan mengancam keberlangsungan usaha peternakan lokal. Mendag Budi Santoso mendesak agar harga telur dapat kembali ke level ideal Rp30 ribu per kg demi menjaga stabilitas dan keberlanjutan sektor yang krusial bagi ketahanan pangan nasional ini.

Pernyataan ini muncul di tengah fluktuasi harga komoditas pangan yang terus menjadi sorotan. Harga Rp26 ribu per kg dinilai sangat mepet dengan biaya produksi, bahkan dalam banyak kasus di bawahnya, sehingga tidak memberikan margin keuntungan yang layak bagi para peternak. Kondisi ini berpotensi memicu gelombang kebangkrutan dan menyusutnya populasi peternak rakyat.

Ancaman Nyata bagi Peternak Rakyat

Kekhawatiran Mendag bukanlah tanpa dasar. Sektor peternakan ayam petelur didominasi oleh peternak rakyat berskala kecil dan menengah yang sangat rentan terhadap gejolak harga. Biaya produksi yang terus meningkat, terutama harga pakan yang menjadi komponen terbesar, menjadi beban berat yang sulit dihindari. Ketika harga jual telur tidak sebanding dengan biaya operasional, maka kerugian menjadi tak terhindarkan.

Beberapa tantangan utama yang dihadapi peternak meliputi:

  • Kenaikan Harga Pakan: Biaya pakan, yang menyumbang sekitar 60-70% dari total biaya produksi, terus berfluktuasi seiring harga bahan baku jagung dan bungkil kedelai di pasar global.
  • Biaya Energi dan Tenaga Kerja: Peningkatan tarif listrik dan upah minimum regional juga menambah beban operasional.
  • Risiko Penyakit Ternak: Ancaman penyakit seperti flu burung atau Newcastle Disease (ND) dapat menyebabkan kematian massal dan kerugian besar.
  • Modal dan Akses Pembiayaan: Peternak kecil sering kesulitan mengakses modal dan pembiayaan dengan bunga rendah untuk pengembangan usaha atau penanganan krisis.

Kondisi ini menciptakan lingkaran setan, di mana peternak terpaksa menjual telur dengan harga murah, mengurangi kapasitas produksi, hingga akhirnya gulung tikar. Efek dominonya akan terasa hingga ke hilir, memengaruhi pasokan telur di pasar dan berpotensi meningkatkan ketergantungan pada impor.

Analisis Struktur Biaya Produksi Telur

Untuk memahami mengapa harga Rp30 ribu per kg dianggap ideal, kita perlu melihat struktur biaya produksi telur. Selain pakan, komponen biaya lainnya meliputi bibit ayam (Day Old Chick/DOC), vitamin dan obat-obatan, biaya operasional kandang, listrik, air, penyusutan peralatan, hingga biaya distribusi dan transportasi. Dengan harga pakan yang cenderung tinggi, ditambah biaya operasional lainnya, titik impas (break even point) peternak sudah berada di atas Rp26 ribu.

Harga Rp30 ribu per kg diharapkan dapat memberikan margin keuntungan yang cukup bagi peternak untuk:

  • Menutupi seluruh biaya operasional dan investasi.
  • Memperoleh pendapatan yang layak untuk keberlangsungan hidup dan kesejahteraan.
  • Melakukan reinvestasi untuk perbaikan kandang, pembelian bibit baru, atau peningkatan teknologi.
  • Mengantisipasi risiko dan fluktuasi biaya di masa mendatang.

Tanpa margin yang memadai, inovasi dan modernisasi di sektor peternakan akan terhambat, bahkan mundur.

Dampak Jangka Panjang Terhadap Ketahanan Pangan Nasional

Penurunan jumlah peternak dan kapasitas produksi telur domestik bukan hanya masalah ekonomi bagi individu, melainkan juga isu krusial bagi ketahanan pangan nasional. Telur merupakan salah satu sumber protein hewani murah dan mudah diakses oleh masyarakat luas. Jika pasokan dalam negeri terganggu, stabilitas harga di tingkat konsumen pun akan terancam. Ini bukan kali pertama pemerintah menghadapi dilema harga pangan. Diskusi mengenai stabilisasi harga komoditas seperti beras, daging, dan gula juga seringkali muncul, menunjukkan kompleksitas menjaga keseimbangan antara kesejahteraan produsen dan daya beli konsumen. Kementerian Perdagangan sendiri memiliki berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas harga.

Dalam jangka panjang, ketergantungan pada impor telur untuk memenuhi kebutuhan domestik akan meningkatkan kerentanan Indonesia terhadap gejolak harga global dan masalah logistik. Hal ini juga bertentangan dengan semangat kemandirian pangan yang terus digalakkan pemerintah.

Langkah Antisipatif Pemerintah dan Harapan Peternak

Untuk mengatasi masalah ini, Mendag Budi Santoso mengisyaratkan perlunya intervensi kebijakan yang lebih konkret dari pemerintah. Beberapa opsi yang dapat dipertimbangkan meliputi:

  • Penetapan Harga Acuan: Menetapkan harga acuan pembelian di tingkat peternak yang adil dan menguntungkan.
  • Stabilisasi Harga Pakan: Subsidi atau kebijakan impor pakan untuk menekan biaya produksi.
  • Pengawasan Distribusi: Memperpendek rantai pasok dan menindak praktik kartel atau spekulasi yang merugikan peternak.
  • Fasilitasi Akses Permodalan: Memberikan kemudahan akses kredit usaha rakyat (KUR) dengan bunga rendah.
  • Edukasi dan Teknologi: Mendukung peternak dengan informasi dan teknologi terkini untuk efisiensi produksi.

Peternak sangat berharap pemerintah dapat segera mengambil tindakan nyata untuk menyelamatkan usaha mereka. Keseimbangan antara kepentingan peternak dan daya beli masyarakat adalah kunci. Tanpa harga yang ideal, semangat para peternak untuk terus berproduksi akan padam, membawa dampak negatif yang luas bagi seluruh ekosistem pangan Indonesia.