Trending: Nakhoda KM Nurul Salsa Ditetapkan Tersangka, Tragedi Selayar Minta Pertanggungjawaban
Selasa, 1 September 2026
INTERNASIONAL

KTT SCO: Putin, Xi, Pezeshkian Bertemu di Tengah Tekanan AS, Sinyal Pergeseran Global?

Menguatnya Poros Timur dan Tantangan Dominasi AS Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Tiongkok Xi Jinping, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan bertemu dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kirgiztan. Pertemuan penting ini berlangsung di tengah gelombang tekanan yang intensif dari Amerika Serikat (AS) terhadap ketiga negara, memicu spekulasi luas tentang […]

Menguatnya Poros Timur dan Tantangan Dominasi AS

Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Tiongkok Xi Jinping, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan bertemu dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kirgiztan. Pertemuan penting ini berlangsung di tengah gelombang tekanan yang intensif dari Amerika Serikat (AS) terhadap ketiga negara, memicu spekulasi luas tentang potensi pergeseran fundamental dalam arsitektur geopolitik global dan apakah dunia kini bergerak menjauh dari orbit pengaruh Washington.

KTT SCO, yang secara historis menjadi platform utama bagi negara-negara Eurasia untuk membahas keamanan dan kerja sama ekonomi, kini menjadi sorotan tajam. Kehadiran bersama para pemimpin dari tiga negara yang menjadi target utama kebijakan luar negeri AS, dalam satu forum, bukan sekadar pertemuan rutin. Ini merupakan indikasi kuat dari upaya konsolidasi kekuatan non-Barat yang mencari alternatif terhadap tatanan dunia unipolar pasca-Perang Dingin. Tekanan diplomatik, sanksi ekonomi, hingga persaingan strategis yang dilancarkan AS terhadap Rusia terkait Ukraina, Tiongkok terkait Taiwan dan Laut China Selatan, serta Iran terkait program nuklir dan dukungan terhadap kelompok proksi, justru mendorong ketiga negara untuk semakin merapat dan mencari solusi kolektif.

Analisis sebelumnya telah menyoroti bagaimana upaya AS untuk mengisolasi Rusia pasca-invasi Ukraina justru mempercepat Moskow untuk mencari sekutu baru di Asia, khususnya Tiongkok dan Iran. Demikian pula, Beijing melihat kerja sama ini sebagai bagian integral dari strateginya untuk membangun tatanan ekonomi dan keamanan alternatif yang kurang bergantung pada institusi Barat. Pertemuan ini bukan hanya tentang solidaritas simbolis, melainkan tentang koordinasi strategi jangka panjang untuk menavigasi dan, dalam beberapa kasus, secara aktif membentuk kembali lanskap geopolitik dan geoeconomi global.

Agenda Krusial: Dari Keamanan Regional hingga De-dolarisasi

Dalam konteks KTT SCO, agenda pembahasan para pemimpin diprediksi akan sangat komprehensif, mencakup isu-isu keamanan regional hingga reformasi ekonomi global. Beberapa poin penting yang kemungkinan besar akan menjadi fokus diskusi antara Putin, Xi, dan Pezeshkian meliputi:

  • Koordinasi Keamanan Regional

    Pembahasan mendalam tentang situasi di Afghanistan, stabilitas Asia Tengah, dan ancaman terorisme lintas batas. Negara-negara anggota SCO memiliki kepentingan bersama dalam menjaga perdamaian dan keamanan di kawasan, yang seringkali terancam oleh konflik regional dan ekstremisme.

  • Pengembangan Koridor Ekonomi dan Konektivitas

    Penguatan inisiatif “Belt and Road” (BRI) Tiongkok dan integrasi dengan proyek-proyek infrastruktur Rusia serta Iran. Ini mencakup pengembangan jalur transportasi, energi, dan perdagangan yang dapat mengurangi ketergantungan pada rute maritim yang didominasi Barat.

  • Mekanisme Pembayaran Alternatif dan De-dolarisasi

    Upaya untuk mengurangi dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional melalui penggunaan mata uang lokal, perluasan sistem pembayaran alternatif (seperti CIPS Tiongkok), dan pembentukan bank pembangunan bersama untuk memfasilitasi investasi dan perdagangan intra-blok. Isu ini menjadi semakin relevan setelah AS menggunakan sanksi finansial sebagai senjata geopolitik.

  • Tanggapan Kolektif terhadap Sanksi

    Strategi bersama untuk menahan dampak sanksi Barat dan membangun ketahanan ekonomi. Ini mungkin melibatkan diversifikasi rantai pasokan, investasi bersama dalam teknologi kritis, dan pengembangan kapasitas produksi domestik.

  • Peningkatan Kerja Sama Militer dan Teknis

    Latihan militer bersama, pertukaran informasi intelijen, dan kolaborasi dalam pengembangan teknologi pertahanan, sebagai respons terhadap peningkatan kehadiran militer Barat di beberapa wilayah strategis.

Implikasi Global: Menuju Tatanan Multipolar?

Pertemuan di Kirgiztan ini tidak hanya menjadi sinyal bagi Washington, tetapi juga bagi seluruh komunitas internasional tentang akselerasi menuju tatanan dunia multipolar. Konsep dunia yang menjauh dari AS menunjukkan bahwa semakin banyak negara yang merasa tidak nyaman dengan unilateralisme atau bahkan hegemoni Washington, dan mereka aktif mencari kekuatan penyeimbang.

Pergeseran ini terlihat dari berbagai aspek:

  • Munculnya Blok-blok Kekuatan Baru: Selain SCO, perluasan BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan) dengan penambahan anggota seperti Iran, Mesir, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab, menunjukkan adanya gravitasi baru dalam hubungan ekonomi dan politik global. Negara-negara ini berupaya menciptakan platform yang merefleksikan keragaman kepentingan dan mengurangi ketergantungan pada institusi lama yang didominasi Barat.
  • Tantangan terhadap Institusi Global yang Ada: Ada dorongan untuk mereformasi atau bahkan menciptakan alternatif bagi lembaga-lembaga seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), yang dianggap tidak lagi merepresentasikan kepentingan seluruh dunia.
  • Diversifikasi Aliansi: Negara-negara di Global Selatan semakin enggan untuk dipaksa memilih satu kubu. Mereka cenderung mengadopsi pendekatan pragmatis, menjaga hubungan dengan berbagai kekuatan besar untuk memaksimalkan kepentingan nasional mereka.

Namun, pergeseran ini bukan tanpa tantangan. Perbedaan kepentingan di antara anggota SCO, misalnya, terutama antara Tiongkok dan India, masih menjadi faktor yang harus dipertimbangkan. Selain itu, kemampuan blok-blok non-Barat untuk menawarkan model pembangunan dan tata kelola yang sama menariknya dengan sistem yang dipimpin AS masih akan diuji.

Peran Pezeshkian dan Kontinuitas Kebijakan Iran

Kehadiran Masoud Pezeshkian, presiden terpilih Iran yang baru, dalam KTT ini sangat signifikan. Meskipun ia dianggap sebagai figur yang lebih moderat dibandingkan beberapa pendahulunya, partisipasinya menandakan kontinuitas dalam orientasi strategis Iran untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara Timur dan mengurangi isolasi Barat. Bagi Iran, SCO adalah pintu gerbang penting menuju integrasi ekonomi dan keamanan di Eurasia, memberikan saluran perdagangan dan investasi yang sangat dibutuhkan di tengah sanksi yang melumpuhkan. Pezeshkian diharapkan akan menegaskan komitmen Iran untuk berpartisipasi aktif dalam inisiatif SCO, termasuk dalam kerja sama energi, keamanan, dan upaya de-dolarisasi.

Pertemuan puncak ketiga pemimpin ini di Kirgiztan adalah babak baru dalam narasi perubahan tatanan dunia. Apakah ini akan menjadi momentum definitif menuju de-hegemoni AS atau hanya konsolidasi sementara kekuatan regional, waktu yang akan menjawabnya. Namun, satu hal yang jelas: kekuatan-kekuatan non-Barat semakin vokal dan terkoordinasi dalam ambisi mereka untuk membentuk masa depan geopolitik global. Untuk informasi lebih lanjut mengenai signifikansi Organisasi Kerja Sama Shanghai, Anda dapat membaca analisis mendalam dari berbagai lembaga think tank internasional. (Sumber Eksternal)