Trending: Puluhan Titik Api Membara di Kalimantan Barat, BNPB Soroti Penanganan KARHUTLA
Selasa, 1 September 2026
PEMERINTAH

DPR RI Desak Kemenkes Tuntaskan 165 Ribu Kasus ISPA Akibat Karhutla Kalimantan Barat

Meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat telah menimbulkan krisis kesehatan yang mendalam, dengan lonjakan drastis kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai 165 ribu kasus. Situasi genting ini memantik respons tegas dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk […]

Meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat telah menimbulkan krisis kesehatan yang mendalam, dengan lonjakan drastis kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mencapai 165 ribu kasus. Situasi genting ini memantik respons tegas dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini, mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk segera turun tangan dan menangani dampak serius akibat paparan kabut asap tersebut. Desakan ini bukan tanpa alasan, mengingat rekam jejak karhutla yang selalu menyisakan penderitaan bagi masyarakat, terutama dalam aspek kesehatan. Kemenkes dituntut untuk mengerahkan segala sumber daya demi melindungi kesehatan masyarakat yang terdampak.

Dampak Kesehatan Mendesak Akibat Kabut Asap

Angka 165 ribu kasus ISPA mencerminkan skala krisis kesehatan yang masif. ISPA, yang gejalanya bervariasi dari batuk, pilek, hingga sesak napas akut, sangat berbahaya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan kronis. Paparan partikel halus (PM2.5) dari asap karhutla dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan memicu berbagai masalah kesehatan jangka pendek maupun panjang. Selain ISPA, risiko penyakit lain seperti bronkitis, asma, bahkan kanker paru-paru juga meningkat secara signifikan. Data ini menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya bencana lingkungan, tetapi juga ancaman nyata terhadap kualitas hidup dan harapan hidup masyarakat di wilayah terdampak.

Komisi IX DPR RI menyoroti beberapa poin penting terkait penanganan kesehatan:

  • Penyediaan layanan kesehatan gratis dan memadai di daerah terdampak.
  • Distribusi masker N95 secara merata kepada seluruh masyarakat, terutama di zona merah.
  • Edukasi publik tentang cara melindungi diri dari paparan asap dan gejala ISPA.
  • Kesiapsiagaan rumah sakit dan puskesmas dalam menghadapi lonjakan pasien.
  • Pengiriman tim medis tambahan dan obat-obatan esensial.

Desakan Komisi IX: Kemenkes Harus Gerak Cepat

Yahya Zaini secara eksplisit menyatakan bahwa Kemenkes tidak boleh berdiam diri melihat kondisi ini. “Angka 165 ribu kasus ISPA adalah alarm serius yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi dari Kementerian Kesehatan,” tegas Yahya. Ia menekankan pentingnya langkah proaktif, bukan hanya reaktif. Desakan ini mengingatkan Kemenkes akan tugas pokoknya dalam menjaga kesehatan masyarakat, terutama dalam situasi darurat bencana. Legislator tersebut juga meminta Kemenkes untuk berkoordinasi erat dengan pemerintah daerah dan lembaga terkait lainnya, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), guna menciptakan strategi penanganan yang komprehensif. Pengalaman krisis asap di tahun-tahun sebelumnya harus menjadi pelajaran berharga untuk tidak mengulangi kesalahan serupa.

Kronologi dan Akar Masalah Karhutla di Kalimantan Barat

Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi langganan karhutla setiap tahunnya, terutama saat musim kemarau panjang. Pemicu utama karhutla seringkali berkaitan dengan praktik pembukaan lahan pertanian atau perkebunan secara ilegal dengan cara dibakar. Faktor cuaca ekstrem yang kering memperparah kondisi, membuat api mudah menyebar dan sulit dipadamkan. Meskipun upaya pencegahan dan penegakan hukum terus digalakkan, insiden karhutla masih kerap terjadi, menunjukkan kompleksitas permasalahan yang memerlukan solusi multisektoral. Dampak ekonomi, sosial, dan terutama kesehatan, selalu menjadi korban utama dari bencana yang seolah tak berkesudahan ini. Penanganan karhutla membutuhkan integrasi upaya dari hulu ke hilir, mulai dari pencegahan, pemadaman, hingga penanganan dampak pasca-bencana.

Langkah Konkret Penanganan dan Pencegahan Jangka Panjang

Menanggapi desakan dari DPR RI dan kondisi di lapangan, Kemenkes diharapkan dapat segera mengimplementasikan berbagai langkah konkret. Pertama, memperkuat fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas dengan suplai obat-obatan, alat bantu pernapasan, dan tenaga medis yang memadai. Kedua, mengaktifkan posko-posko kesehatan darurat di wilayah yang paling parah terdampak. Ketiga, meluncurkan kampanye edukasi kesehatan yang intensif kepada masyarakat tentang bahaya asap dan cara menjaga diri, termasuk pentingnya membatasi aktivitas di luar ruangan. Kementerian Kesehatan juga perlu berinvestasi dalam sistem pemantauan kualitas udara yang lebih canggih dan responsif untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat.

Dalam jangka panjang, kolaborasi antar lembaga pemerintah menjadi kunci. KLHK harus lebih gencar dalam upaya pencegahan dan penegakan hukum terhadap pembakar hutan. BNPB fokus pada mitigasi bencana dan kesiapsiagaan darurat. Sementara Kemenkes memastikan aspek kesehatan masyarakat selalu menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan penanggulangan karhutla. Pendekatan holistik ini diharapkan dapat memutus rantai krisis kesehatan akibat asap karhutla yang terus berulang, serta melindungi hak masyarakat untuk hidup di lingkungan yang sehat dan bebas polusi.