PALANGKA RAYA – PALANGKA RAYA – Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, baru-baru ini mengungkapkan keprihatinan mendalam atas meluasnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah. Data terbaru menunjukkan bahwa area terdampak Karhutla telah mencapai angka yang sangat mengkhawatirkan, yakni melebihi 100.000 hektare. Angka ini menandakan eskalasi bencana lingkungan yang serius, tidak hanya mengancam ekosistem lokal tetapi juga memiliki potensi dampak lintas daerah dan nasional.
Pernyataan Wamenko Hanif menyoroti betapa parahnya situasi Karhutla yang kini melanda Kalteng, sebuah wilayah yang dikenal memiliki tutupan hutan dan lahan gambut yang luas. Dengan luasan lebih dari 100.000 hektare yang hangus, skala kerusakan telah melampaui batas kewajaran dan menempatkan Kalteng dalam situasi darurat lingkungan yang membutuhkan penanganan segera dan terkoordinasi dari berbagai pihak.
Skala Kerusakan dan Dampak Lingkungan yang Mengkhawatirkan
Luasnya lahan yang terbakar, setara dengan hampir dua kali lipat luas wilayah administrasi DKI Jakarta, menimbulkan kekhawatiran serius terhadap kelestarian lingkungan dan kualitas hidup masyarakat. Kebakaran ini tidak hanya melahap hutan tropis, tetapi juga lahan gambut yang kaya karbon. Pembakaran lahan gambut melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar ke atmosfer, berkontribusi pada perubahan iklim global dan menciptakan kabut asap pekat yang menyelimuti area sekitar.
- Emisi Karbon Tinggi: Lahan gambut yang terbakar adalah penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar. Proses pembakaran di bawah permukaan tanah bisa berlangsung berbulan-bulan, menghasilkan emisi yang jauh lebih banyak daripada kebakaran hutan biasa.
- Ancaman Keanekaragaman Hayati: Habitat alami flora dan fauna, termasuk spesies endemik dan dilindungi seperti orangutan, musnah dalam sekejap. Ini memicu krisis keanekaragaman hayati yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pulih.
- Kabut Asap dan Kesehatan: Kabut asap tebal akibat Karhutla membawa partikel-partikel berbahaya PM2.5 yang sangat berdampak pada kesehatan manusia. Peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi ancaman rutin bagi warga di Palangka Raya dan sekitarnya, bahkan berpotensi menjalar ke provinsi tetangga.
- Dampak Ekonomi: Sektor pertanian, perikanan, dan transportasi terganggu parah. Penerbangan sering dibatalkan akibat jarak pandang terbatas, serta aktivitas perekonomian lokal terhenti.
Penyebab dan Tantangan Penanganan Karhutla Kalteng
Meluasnya Karhutla di Kalteng tidak lepas dari kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Musim kemarau panjang yang diperparah oleh fenomena El Nino menciptakan kondisi sangat kering, menjadikan hutan dan lahan gambut sangat rentan terbakar. Selain itu, praktik pembukaan lahan dengan cara membakar masih menjadi pemicu utama, meskipun sudah dilarang oleh undang-undang.
Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah selalu menghadapi tantangan berat. Lahan gambut yang terbakar sangat sulit dipadamkan karena api membara di bawah permukaan tanah. Selain itu, medan yang luas dan terpencil menyulitkan akses tim pemadam. Keterbatasan personel, peralatan, serta perubahan arah angin yang tidak menentu juga memperumit upaya pemadaman. Berbagai upaya penanggulangan bencana seperti Karhutla terus diupayakan oleh pemerintah dan lembaga terkait.
Respon Pemerintah dan Langkah Mitigasi Darurat
Pemerintah, melalui berbagai kementerian dan lembaga, telah mengintensifkan upaya penanganan Karhutla di Kalteng. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), TNI, Polri, serta pemerintah daerah bahu-membahu melakukan pemadaman baik melalui darat maupun udara. Teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau hujan buatan, serta water bombing menggunakan helikopter, menjadi andalan dalam upaya mitigasi kebakaran ini.
Wamenko Hanif sendiri menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan pangan dan lingkungan. Kerusakan lingkungan akibat Karhutla secara langsung mempengaruhi ketahanan pangan, terutama bagi masyarakat yang bergantung pada hasil hutan dan pertanian lokal. Oleh karena itu, pendekatan holistik diperlukan, tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga pada upaya pencegahan jangka panjang, seperti restorasi gambut dan edukasi masyarakat mengenai praktik pertanian berkelanjutan tanpa bakar.
Mengingat pengalaman Karhutla di tahun-tahun sebelumnya yang juga meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Kalimantan dan Sumatera, pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Karhutla Nasional. Satgas ini bertugas memantau titik panas, melakukan patroli rutin, serta menegakkan hukum terhadap para pelaku pembakar lahan. Penegakan hukum yang tegas diharapkan dapat memberikan efek jera dan mengurangi praktik pembakaran lahan ilegal.
Meluasnya Karhutla hingga 100.000 hektare di Kalimantan Tengah adalah alarm darurat bagi semua pihak. Bencana ini bukan hanya sekadar kebakaran biasa, melainkan ancaman serius terhadap lingkungan, kesehatan, dan ekonomi. Komitmen kuat dari pemerintah, kolaborasi antarlembaga, serta kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama untuk mengatasi krisis ini dan mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.