Trending: Puluhan Titik Api Membara di Kalimantan Barat, BNPB Soroti Penanganan KARHUTLA
Selasa, 1 September 2026
INTERNASIONAL

Ketegangan Baru AS-Kanada: Dari Hampir Sepakat Berujung Perang Dagang Era Trump

Ketegangan Baru AS-Kanada: Dari Hampir Sepakat Berujung Perang Dagang Era Trump Ketegangan diplomatik dan ekonomi kembali menyelimuti hubungan Amerika Serikat dan Kanada. Presiden AS saat itu, Donald Trump, tiba-tiba meningkatkan friksi dengan tetangga utaranya, memicu perang dagang yang merugikan. Padahal, kedua negara raksasa ekonomi ini sebelumnya hampir mencapai titik temu dalam renegosiasi perjanjian perdagangan penting, […]

Ketegangan Baru AS-Kanada: Dari Hampir Sepakat Berujung Perang Dagang Era Trump

Ketegangan diplomatik dan ekonomi kembali menyelimuti hubungan Amerika Serikat dan Kanada. Presiden AS saat itu, Donald Trump, tiba-tiba meningkatkan friksi dengan tetangga utaranya, memicu perang dagang yang merugikan. Padahal, kedua negara raksasa ekonomi ini sebelumnya hampir mencapai titik temu dalam renegosiasi perjanjian perdagangan penting, sebuah kesepakatan yang diharapkan dapat meredakan ketidakpastian. Namun, momen krusial itu justru berubah menjadi konfrontasi tarif yang dalam dan tajam, mengguncang fondasi kemitraan bilateral yang telah terjalin lama. Eskalasi ini memperlihatkan dinamika kompleks dan tak terduga dalam kebijakan luar negeri dan perdagangan era Trump, meninggalkan jejak ketidakpercayaan dan kerugian ekonomi di kedua sisi perbatasan.

Latar Belakang Ketegangan Dagang Era “America First”

Perseteruan antara Washington dan Ottawa bukanlah hal baru, namun intensitasnya meningkat drastis di bawah pemerintahan Donald Trump. Sejak kampanye kepresidenannya, Trump berulang kali mengkritik keras Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA), menyebutnya sebagai "kesepakatan terburuk dalam sejarah" yang merugikan pekerja dan industri Amerika. Filosofi "America First" menjadi landasan bagi ambisinya untuk merombak ulang perjanjian perdagangan, termasuk dengan Kanada dan Meksiko. Ia berpendapat bahwa NAFTA telah menyebabkan defisit perdagangan yang tidak adil bagi AS dan mendorong relokasi pabrik ke luar negeri. Tuntutan utama AS dalam renegosiasi NAFTA meliputi peningkatan aturan konten regional untuk otomotif, penghapusan mekanisme penyelesaian sengketa, dan akses pasar yang lebih besar untuk produk pertanian AS, khususnya susu.

Kronologi Negosiasi Panas dan Titik Balik

Negosiasi untuk memperbarui NAFTA, yang kemudian dikenal sebagai Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA), berlangsung maraton dan penuh drama selama berbulan-bulan. Para perunding dari ketiga negara bekerja keras mencari titik temu di tengah tuntutan AS yang agresif. Ada beberapa momen di mana kesepakatan tampak di depan mata, terutama setelah AS mencapai kesepakatan bilateral dengan Meksiko. Situasi ini secara signifikan meningkatkan tekanan pada Kanada untuk menerima persyaratan AS atau berisiko tertinggal dari perjanjian baru. Ketika negosiasi mencapai puncaknya, perbedaan pandangan yang fundamental, terutama mengenai isu-isu seperti kuota impor susu Kanada dan mekanisme penyelesaian sengketa, justru memicu kemunduran. Ini adalah titik di mana "hampir mencapai kesepakatan" berubah menjadi ancaman nyata perang dagang. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau pada waktu itu menolak untuk tunduk pada semua tuntutan AS, menegaskan bahwa Kanada tidak akan menandatangani kesepakatan yang tidak menguntungkan bagi negaranya.

Tarif dan Balasan: Awal Mula Perang Dagang Terbuka

Kegagalan mencapai kesepakatan menyeluruh pada momen-momen krusial tersebut memicu respons keras dari pemerintahan Trump. Tanpa peringatan lebih lanjut, Washington mengumumkan pengenaan tarif impor sebesar 25% untuk baja dan 10% untuk aluminium yang berasal dari Kanada, Meksiko, dan Uni Eropa. Trump membenarkan langkah ini dengan alasan keamanan nasional, sebuah dalih yang secara luas dikritik oleh sekutu AS. Bagi Kanada, pengenaan tarif ini sangat mengejutkan dan dianggap sebagai penghinaan, mengingat status mereka sebagai sekutu dekat dan pemasok baja serta aluminium terbesar bagi AS.

Sebagai balasan, Kanada tidak tinggal diam. Ottawa segera mengumumkan tarif balasan atas produk-produk AS senilai miliaran dolar, yang menargetkan berbagai barang mulai dari baja dan aluminium hingga yoghurt, kopi, dan perahu motor. Daftar barang yang dikenai tarif ini dirancang secara strategis untuk memberikan tekanan maksimal pada wilayah-wilayah kunci di AS. Langkah balasan Kanada ini menandai dimulainya perang dagang terbuka antara dua negara yang memiliki ikatan ekonomi dan budaya yang sangat erat.

  • Poin-poin penting dalam friksi ini meliputi:
  • Pengenaan tarif AS sebesar 25% pada baja dan 10% pada aluminium dari Kanada.
  • Alasan "keamanan nasional" yang diutarakan AS dianggap tidak beralasan oleh Kanada.
  • Respon Kanada dengan tarif balasan atas barang-barang AS senilai C$16,6 miliar.
  • Perdebatan sengit mengenai industri susu Kanada yang dilindungi.
  • Retorika keras dari kedua belah pihak, termasuk dari Trump yang menyebut Trudeau "lemah" dan "tidak jujur."

Dampak dan Reaksi Kanada Terhadap Kebijakan Trump

Perang dagang ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pelaku bisnis dan konsumen di kedua negara. Perusahaan-perusahaan yang bergantung pada rantai pasokan lintas batas tiba-tiba menghadapi biaya tambahan dan ketidakpastian. Sektor otomotif, yang sangat terintegrasi di AS dan Kanada, adalah salah satu yang paling rentan terhadap eskalasi tarif. Di Kanada, langkah Trump ini disambut dengan kemarahan dan kekecewaan. Perdana Menteri Justin Trudeau secara terbuka mengecam tarif tersebut sebagai "penghinaan" dan "ilegal" di bawah hukum internasional. Ia menegaskan bahwa Kanada akan membela kepentingannya dan membalas dengan tegas, namun tetap membuka pintu dialog. Sentimen anti-AS bahkan meningkat di sebagian masyarakat Kanada, mengikis citra baik yang selama ini dinikmati AS di mata tetangganya. Analisis kami sebelumnya tentang dampak kebijakan dagang proteksionis global juga telah menyoroti risiko-risiko serupa yang muncul dari pendekatan semacam ini, yang sering kali merugikan semua pihak yang terlibat.

Jalan Menuju USMCA dan Implikasinya Jangka Panjang

Meskipun ketegangan memuncak, negosiasi akhirnya berlanjut, didorong oleh tekanan politik dan ekonomi dari berbagai pihak. Setelah berbulan-bulan tarik ulur, AS, Meksiko, dan Kanada akhirnya mencapai kesepakatan USMCA pada akhir September 2018. Perjanjian ini, yang menggantikan NAFTA, mencerminkan beberapa perubahan signifikan yang diinginkan AS, tetapi juga mempertahankan banyak elemen penting dari perjanjian sebelumnya. Kesepakatan ini mengakhiri perang dagang terbuka dan tarif balasan, namun tidak tanpa meninggalkan bekas luka. Hubungan AS-Kanada, yang secara historis merupakan salah satu aliansi terkuat di dunia, mengalami periode yang paling tegang dalam beberapa dekade. Ketidakpercayaan yang terbangun selama era Trump dan perang dagang ini membutuhkan waktu untuk pulih. Peristiwa ini menjadi pengingat penting tentang volatilitas dalam hubungan internasional dan dampak besar yang dapat ditimbulkan oleh keputusan politik seorang pemimpin terhadap ekonomi global dan aliansi strategis. Pembahasan lebih lanjut mengenai detail Perjanjian USMCA dapat ditemukan di sumber resmi.