Trending: Pasca Peretasan Fantastis, Binance Buka Kembali Layanan Penarikan Kripto
Senin, 2 November 2026
NASIONAL

Anggota DPR Soroti Krisis Asap Kalimantan: Tiga Bulan Karhutla Paksa Warga Hidup di Neraka

Anggota DPR Soroti Krisis Asap Kalimantan: Tiga Bulan Karhutla Paksa Warga Hidup di Neraka Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Daniel Johan, melontarkan kritik keras terhadap penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Menurutnya, setelah tiga bulan dilanda kabut asap pekat, kehidupan warga terdampak di […]

Anggota DPR Soroti Krisis Asap Kalimantan: Tiga Bulan Karhutla Paksa Warga Hidup di Neraka

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Daniel Johan, melontarkan kritik keras terhadap penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Menurutnya, setelah tiga bulan dilanda kabut asap pekat, kehidupan warga terdampak di wilayah tersebut berada pada titik terendah, "seperti berada di neraka". Pernyataan Daniel Johan ini menyoroti krisis lingkungan dan kemanusiaan yang berulang, menuntut evaluasi menyeluruh serta tindakan konkret dari pemerintah pusat dan daerah.

Kondisi yang digambarkan Daniel Johan bukanlah isapan jempol semata. Data dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa indeks standar pencemaran udara (ISPU) di sejumlah wilayah Kalimantan kerap mencapai level berbahaya, jauh melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan. Langit yang seharusnya biru kini digantikan oleh selimut asap tebal berwarna kuning keabu-abuan. Pemandangan ini bukan hanya mengganggu estetika, tetapi secara langsung mengancam kesehatan dan perekonomian jutaan jiwa penduduk.

Neraka Asap: Potret Penderitaan Warga Kalimantan

Dampak karhutla yang terus-menerus dirasakan oleh masyarakat Kalimantan sangat multidimensional. Asap pekat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) meningkat tajam, terutama pada anak-anak dan lansia yang memiliki sistem imun lebih rentan. Rumah sakit dan pusat kesehatan kewalahan menampung pasien dengan keluhan batuk, sesak napas, hingga iritasi mata. Pendidikan terganggu karena sekolah terpaksa diliburkan untuk menghindari paparan langsung asap berbahaya, menghambat proses belajar-mengajar dan masa depan generasi muda.

Sektor ekonomi juga lumpuh signifikan. Nelayan tidak bisa melaut karena jarak pandang terbatas dan risiko kecelakaan, petani gagal panen akibat kurangnya sinar matahari dan dampak polusi pada tanaman, serta sektor pariwisata yang mati suri karena wisatawan enggan datang ke wilayah berasap. Aktivitas sehari-hari warga sangat terbatas; mereka harus mengenakan masker bahkan di dalam rumah, udara terasa pengap, dan aroma asap menusuk hidung tak henti-hentinya. Kondisi ini menciptakan tekanan psikologis yang luar biasa, mengubah dinamika sosial dan memperburuk kualitas hidup secara drastis.

Akar Masalah Karhutla: Lingkaran Setan yang Tak Terputus

Kritik dari Daniel Johan menggarisbawahi kegagalan dalam memutus rantai masalah karhutla yang seolah menjadi agenda tahunan. Sejak puluhan tahun lalu, karhutla selalu menjadi momok di Indonesia, terutama saat musim kemarau panjang. Penyebab utamanya tetap sama: praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, baik oleh korporasi maupun masyarakat, di area gambut yang sangat rentan terbakar. Lahan gambut, ketika kering, berfungsi seperti spons raksasa yang mudah menyulut api dan sulit dipadamkan karena api membara di bawah permukaan tanah selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Lemahnya penegakan hukum terhadap para pelaku pembakaran, serta pengawasan yang belum optimal, seringkali disebut sebagai faktor yang memperparah situasi. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya seperti water bombing, pembangunan kanal sekat, dan patroli darat, skala dan frekuensi kebakaran menunjukkan bahwa langkah-langkah tersebut masih belum cukup untuk mengatasi akar masalah secara fundamental. Ini bukan hanya masalah musiman, melainkan isu sistemik yang membutuhkan solusi holistik.

Beberapa poin krusial yang perlu diperhatikan dalam penanganan karhutla meliputi:

  • Penguatan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan, tanpa pandang bulu.
  • Restorasi ekosistem gambut yang rusak secara masif dan berkelanjutan.
  • Peningkatan kapasitas pemadaman dan pencegahan dini berbasis teknologi mutakhir.
  • Edukasi dan pemberdayaan masyarakat lokal untuk praktik pertanian dan kehutanan berkelanjutan.
  • Pengembangan energi terbarukan dan alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pembakaran biomassa.

Desakan untuk Aksi Konkret dan Jangka Panjang

Pernyataan Daniel Johan adalah alarm bagi pemerintah untuk tidak lagi menunda solusi komprehensif yang telah lama dinanti. Bukan hanya respons darurat saat asap mengepul, tetapi juga strategi pencegahan jangka panjang yang melibatkan semua pihak: pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat adat. Lingkungan yang sehat adalah hak dasar setiap warga negara, dan sudah saatnya negara hadir secara penuh untuk melindungi hak tersebut dari ancaman asap karhutla yang terus berulang. Upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim juga harus menjadi bagian integral dari strategi ini, mengingat kemarau ekstrem diperkirakan akan semakin sering terjadi di masa depan. Dampak polusi udara terhadap kesehatan sudah jelas terekam dalam berbagai penelitian global, dan Indonesia tidak boleh abai terhadap ancaman serius ini.

Komitmen Politik dan Harapan Warga

Melihat betapa berulang dan parahnya krisis ini, komitmen politik dari eksekutif dan legislatif menjadi kunci utama. Daniel Johan, sebagai perwakilan rakyat, menyuarakan penderitaan konstituennya yang mengharapkan perubahan nyata dan efektif. Warga Kalimantan menginginkan jaminan bahwa mereka dapat hidup di lingkungan yang bersih, tanpa harus setiap tahun merasakan "neraka asap" yang menghantui. Ini bukan hanya tentang penegakan hukum, tetapi juga tentang keadilan lingkungan dan keberlanjutan hidup demi generasi mendatang. Pemerintah harus menunjukkan ketegasan dan keberpihakan kepada rakyat, bukan kepada kepentingan sesaat.