Trending: Krisis Air Bersih Akut di Jonggol: PUPR Kirim 11.800 Liter, Solusi Jangka Panjang Mendesak
Selasa, 1 September 2026
NASIONAL

Menggali Semangat Pendiri NU Melalui Pameran Seni di Muktamar ke-35 Jombang

JOMBANG – Di tengah dinamika perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, sebuah inisiatif kultural yang mendalam menyemarakkan suasana. Gelaran akbar organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berlangsung baru-baru ini mempersembahkan pameran lukisan para pendiri NU, atau yang akrab disebut Muasis. Inisiatif ini tidak sekadar menjadi hiburan visual, melainkan sebuah upaya serius untuk merefleksikan kembali akar […]

JOMBANG – Di tengah dinamika perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, sebuah inisiatif kultural yang mendalam menyemarakkan suasana. Gelaran akbar organisasi Islam terbesar di Indonesia yang berlangsung baru-baru ini mempersembahkan pameran lukisan para pendiri NU, atau yang akrab disebut Muasis. Inisiatif ini tidak sekadar menjadi hiburan visual, melainkan sebuah upaya serius untuk merefleksikan kembali akar sejarah, mengenang jasa besar para ulama pendahulu, dan mengukuhkan semangat perjuangan mereka kepada generasi penerus.

Pameran ini menjadi titik perhatian khusus di antara rangkaian agenda Muktamar yang padat dengan diskusi dan pengambilan keputusan strategis. Para peserta, mulai dari kiai sepuh, ulama muda, hingga santri dan masyarakat umum, berkesempatan untuk menyelami wajah-wajah inspiratif para Muasis melalui medium seni rupa. Setiap goresan kuas, setiap pilihan warna, seolah bertutur tentang perjalanan panjang NU sejak awal pendiriannya, penuh dengan tantangan dan pengorbanan demi kemaslahatan umat dan bangsa.

Refleksi Sejarah Melalui Kuas: Pameran Para Muasis

Pameran lukisan ini secara gamblang menunjukkan bagaimana seni dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Lukisan-lukisan tersebut bukan hanya potret visual, melainkan representasi dari semangat, pemikiran, dan perjuangan para pendiri NU yang relevan hingga saat ini. Melalui karya seni, para hadirin diajak untuk merasakan kedalaman filosofi dan spiritualitas yang melandasi pergerakan Nahdlatul Ulama.

  • Mengenang jasa dan kontribusi para ulama pendiri NU.
  • Menghidupkan kembali narasi sejarah NU kepada khalayak luas.
  • Menginspirasi semangat perjuangan dan keikhlasan bagi generasi muda NU.
  • Menunjukkan peran seni sebagai media dakwah dan edukasi sejarah.
  • Memperkuat identitas dan jati diri Nahdlatul Ulama.

Para seniman menghadirkan figur-figur seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, dan tokoh-tokoh lainnya tidak hanya sebagai sosok sejarah, tetapi juga sebagai sumber inspirasi abadi. Pameran ini seakan membuka lembaran-lembaran kitab sejarah NU, namun dengan gaya penyampaian yang lebih intuitif dan emosional, menyentuh hati para penikmatnya secara langsung dan mendalam. Respon positif dari berbagai kalangan menunjukkan bahwa pendekatan artistik ini efektif dalam menjangkau audiens yang beragam.

Muktamar ke-35: Lebih dari Sekadar Sidang Pleno

Keberadaan pameran lukisan di tengah Muktamar NU ke-35 menggarisbawahi bahwa acara akbar ini bukan hanya forum politik dan organisasi semata. Muktamar juga merupakan wadah refleksi budaya, spiritual, dan intelektual. Dengan mengangkat seni sebagai bagian integral, NU menegaskan komitmennya terhadap kekayaan khazanah kebudayaan Islam Nusantara. Ini juga menunjukkan adaptasi organisasi dalam menyampaikan pesan-pesan fundamentalnya melalui berbagai medium yang relevan dengan zaman dan selera masyarakat kontemporer.

Pameran ini menjadi pengingat bagi seluruh warga NU untuk tidak melupakan akar perjuangan dan nilai-nilai luhur yang telah ditanamkan para pendiri. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, menoleh ke belakang dan memahami kembali visi para Muasis menjadi sangat krusial. Mereka adalah pilar yang menopang tegaknya NU, dan semangat mereka harus terus menyala di setiap sanubari anggota Nahdlatul Ulama, mengarahkan langkah organisasi ke depan.

Ini bukan kali pertama NU menunjukkan kedekatannya dengan seni. Dalam berbagai kesempatan, seni tradisi seperti kaligrafi, musik hadrah, hingga arsitektur masjid, selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari dakwah dan syiar Islam ala Nahdlatul Ulama. Pameran lukisan ini menambah daftar panjang bagaimana NU secara konsisten menggunakan jalur kultural untuk menyampaikan pesan-pesannya, memperkaya khazanah keislaman dengan sentuhan estetika.

Seni Sebagai Jembatan Antargenerasi

Salah satu tujuan paling mulia dari pameran ini adalah menjembatani kesenjangan antargenerasi. Generasi muda NU mungkin hanya mengenal para Muasis dari buku-buku sejarah. Namun, melalui pameran lukisan, mereka dapat memiliki pengalaman yang lebih personal dan mendalam. Visualisasi para tokoh ini membantu mereka untuk terhubung secara emosional dengan sejarah dan perjuangan yang telah dilewati, mendorong mereka untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dan perjuangan organisasi dengan semangat baru.

Penyelenggaraan pameran seni semacam ini diharapkan dapat menjadi tradisi positif dalam setiap agenda besar NU di masa mendatang, memastikan bahwa nilai-nilai dan sejarah tidak pernah pudar ditelan zaman. Upaya serupa dalam mengabadikan jejak tokoh-tokoh penting melalui medium kreatif pernah juga kami ulas dalam laporan sebelumnya, menunjukkan konsistensi dalam pelestarian sejarah.

Melestarikan jejak pemikiran dan perjuangan para Muasis bukan hanya tentang mengenang, tetapi juga tentang meneladani. Setiap lukisan adalah cerminan dari sebuah episode sejarah, sebuah pengorbanan, dan sebuah visi yang jauh melampaui zamannya. Dengan menghargai seni sebagai medium penyampai pesan, Muktamar NU ke-35 di Jombang tidak hanya menjadi ajang musyawarah yang menentukan arah organisasi, tetapi juga perayaan kekayaan sejarah dan budaya Nahdlatul Ulama yang tak ternilai harganya.