Trending: Pasca Peretasan Fantastis, Binance Buka Kembali Layanan Penarikan Kripto
Minggu, 1 November 2026
INTERNASIONAL

Trump Desak Netanyahu Agar Ben Gvir Tak Masuk Kabinet Israel

Tekanan Trump untuk Menjauhkan Ben Gvir dari Pemerintahan Laporan mengejutkan muncul yang menyebutkan bahwa mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara pribadi menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Inti tekanan tersebut adalah agar Netanyahu tidak melibatkan politisi sayap kanan kontroversial, Itamar Ben Gvir, dalam kabinet Israel berikutnya. Intervensi semacam ini, meski bukan hal baru dalam […]

Tekanan Trump untuk Menjauhkan Ben Gvir dari Pemerintahan

Laporan mengejutkan muncul yang menyebutkan bahwa mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara pribadi menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Inti tekanan tersebut adalah agar Netanyahu tidak melibatkan politisi sayap kanan kontroversial, Itamar Ben Gvir, dalam kabinet Israel berikutnya. Intervensi semacam ini, meski bukan hal baru dalam dinamika hubungan AS-Israel, menyoroti kekhawatiran Washington terhadap komposisi pemerintahan di Yerusalem dan potensi dampaknya terhadap stabilitas regional serta hubungan diplomatik kedua negara.

Tekanan dari seorang mantan presiden AS terhadap pemimpin negara sekutu dekat ini menunjukkan betapa seriusnya pandangan Washington terhadap sosok Ben Gvir. Sumber yang dekat dengan situasi tersebut mengungkapkan bahwa Trump menyampaikan pesannya ini di tengah proses pembentukan koalisi Netanyahu yang rumit. Ini menegaskan bahwa Washington, terlepas dari siapa yang menjabat di Gedung Putih, secara aktif memantau dan mencoba memengaruhi kebijakan domestik Israel, terutama jika menyangkut figur yang dianggap dapat mengancam perdamaian atau reputasi internasional Israel.

Siapa Itamar Ben Gvir? Sosok Kontroversial di Politik Israel

Itamar Ben Gvir adalah figur sentral dari partai sayap kanan jauh Otzma Yehudit (Kekuatan Yahudi), yang secara luas dianggap sebagai partai ekstremis. Latar belakang dan pandangan politiknya telah lama menjadi sumber kontroversi di dalam maupun luar Israel. Beberapa poin penting tentang Ben Gvir meliputi:

  • Ideologi Kahanis: Ben Gvir adalah pengikut ideologi Rabbi Meir Kahane, yang partainya, Kach, dilarang di Israel dan dicap sebagai organisasi teroris di AS. Ben Gvir secara terbuka mendukung pandangan Kahane yang menyerukan pengusiran warga Palestina dari Israel dan aneksasi seluruh Tepi Barat.
  • Riwayat Hukum: Ia memiliki sejarah panjang masalah hukum, termasuk dakwaan atas hasutan untuk rasisme dan dukungan terhadap organisasi teroris. Meskipun ia telah mencoba melembutkan citranya belakangan ini, rekam jejaknya tetap menjadi sorotan.
  • Retorika Anti-Arab: Retorika publiknya sering kali menargetkan warga Arab Israel dan Palestina, menyerukan tindakan keras terhadap mereka dan bahkan mendukung kekerasan terhadap mereka yang dianggap musuh Israel.
  • Popularitas Meningkat: Meskipun kontroversial, partainya berhasil mendapatkan dukungan signifikan dari segmen pemilih Israel yang menginginkan pendekatan yang lebih keras terhadap keamanan dan isu Palestina. Ini menempatkannya sebagai pemain kunci dalam pembentukan koalisi sayap kanan.

Kehadiran Ben Gvir dalam kabinet diprediksi dapat memperkeruh hubungan Israel dengan negara-negara Arab yang telah menormalisasi hubungan melalui Abraham Accords, serta memperburuk prospek solusi dua negara dengan Palestina. Informasi lebih lanjut tentang latar belakang dan pandangan Ben Gvir dapat ditemukan di profil-profil berita terkemuka.

Dilema Netanyahu: Keseimbangan Kekuatan dan Tekanan Eksternal

Bagi Benjamin Netanyahu, permintaan Trump ini menambah lapisan kompleksitas pada tugasnya yang sudah sulit untuk membentuk pemerintahan. Netanyahu sangat bergantung pada dukungan blok sayap kanan, termasuk partai-partai seperti Otzma Yehudit pimpinan Ben Gvir, untuk mendapatkan mayoritas di Knesset. Tanpa mereka, membentuk koalisi yang stabil nyaris mustahil. Ini bukan kali pertama Netanyahu menghadapi tekanan serupa. Laporan-laporan sebelumnya tentang sulitnya Netanyahu mencari dukungan dari berbagai faksi politik, serta kekhawatiran internasional terhadap figur-figur tertentu, telah menjadi tema berulang dalam politik Israel modern.

Di satu sisi, ia membutuhkan Ben Gvir untuk mengamankan kekuasaan dan membentuk kabinet. Di sisi lain, menuruti Ben Gvir berisiko mengasingkan sekutu internasional utama, termasuk Amerika Serikat, yang bisa berujung pada konsekuensi diplomatik dan bahkan ekonomi. Dilema ini menyoroti kerapuhan politik internal Israel dan seberapa besar pengaruh eksternal masih berperan dalam pengambilan keputusan strategis negara tersebut.

Implikasi Hubungan AS-Israel

Tekanan Trump terhadap Netanyahu menggarisbawahi sifat unik dari “hubungan khusus” antara AS dan Israel. Meskipun AS selalu menjadi pendukung kuat Israel, intervensi langsung dalam formasi kabinet menunjukkan tingkat kepedulian yang mendalam terhadap arah kebijakan Israel. Kekhawatiran Washington tidak hanya terbatas pada potensi pelanggaran hak asasi manusia atau retorika yang tidak sensitif, tetapi juga pada stabilitas regional dan kemampuan AS untuk mempromosikan perdamaian di Timur Tengah.

Kehadiran figur seperti Ben Gvir dalam pemerintahan dapat menghambat upaya diplomatik, merusak citra Israel di mata dunia, dan bahkan memicu ketegangan yang lebih besar dengan Palestina serta negara-negara tetangga. AS, yang seringkali menjadi mediator dan penjamin keamanan di wilayah tersebut, memiliki kepentingan strategis untuk memastikan bahwa pemerintahan Israel tidak mengambil langkah-langkah yang akan mendestabilisasi situasi lebih lanjut.

Proyeksi Masa Depan Kabinet Israel

Keputusan akhir Netanyahu mengenai Ben Gvir akan memiliki dampak signifikan. Jika Ben Gvir disertakan, Israel mungkin akan menghadapi kecaman internasional yang meluas, penarikan dukungan dari beberapa sekutu, dan potensi peningkatan ketegangan di Tepi Barat dan Gaza. Sebaliknya, jika Netanyahu mengabaikan Ben Gvir, ia mungkin harus mencari cara lain untuk mengamankan mayoritas, yang bisa berarti kompromi yang sulit atau bahkan pemilihan umum baru.

Situasi ini menempatkan Netanyahu di persimpangan jalan, di mana ia harus menyeimbangkan kebutuhan politik domestik dengan tuntutan dan kekhawatiran dari salah satu sekutu paling penting Israel. Masa depan politik Israel dan dinamika regional akan sangat bergantung pada bagaimana Netanyahu menavigasi tekanan internal dan eksternal ini, serta sejauh mana ia bersedia mengambil risiko diplomatik demi stabilitas koalisinya. Netanyahu berada dalam posisi yang sangat sulit, dan keputusannya akan diawasi ketat oleh seluruh dunia.